My life is full more dream ♥

Welcome in my blog, just person who want to tell a story, what I feel and I want , Let's share stories, may be useful for us as teenager (ʃ⌣ˆ)

Sabtu, 28 September 2013

Belantara Kehidupan Bersama Skoliosis

                Hai sebelum memposting hal ini sudah aku pikirkan bahwa orang lain yang bernasib sama sepertiku pasti membutuhkan. Aku adalah penderita skoliosis, aku mengunggah cerita dari sebuah perjalanan, ini bukan karena ingin menunjukkan kelemahanku tapi aku hanya ingin memberi motivasi untuk orang lain yang cemas dengan skoliosis. Bukan juga karena aku seseorang yang kuat dan tegar.
                Sejak kecil aku berkepribadian sedikit manja pada kedua orang tuaku, namun aku sadar manja bukanlah hal yang kita butuhkan dimasa yang akan datang. Dimulai saat aku SMP kelas 7, aku sedang belajar diruang tengah lalu bundaku berkata “Viq, sepertinya ada yang aneh dengan tulang punggungmu?” Bunda adalah sebutan bude yang lebih dekat denganku, karena mamaku yang sesungguhnya sibuk bekerja dari pagi dampai malam. Lalu akupun meraba tulang punggungku, ada tulang yang membengkok ke kanan dan terlihat aneh. Memang tidak terlalu terlihat namun aku rasa ini hal yang tidak perlu aku khawatirkan terlalu berlebihan. Beberapa saat kemudian sepulang latihan Drum Band aku meraskan lelah dan kesakitan dengan punggungku, karena aku aktif dalam ekstrakuler yang melakukan fisik berat seperti Drum Band. Aku tidak sadar bahwa itu adalah efek dari membengkoknya tulang belakangku. Beberapa lama kemudian aku telah benar-benar di vonis sebagai penderita skoliosis, karena akhir-akhir ini aku sering lelah, sakit dipunggung dan sesak nafas itu adalah factor pendorong. Syok, parah ditambah dengan orang tuaku yang kurang respect dengan hal ini karena mereka sibuk bekerja. Penyakit ini memang tidak bisa disembuhkan secara total sekalipun ada tidak 100% semua atas kuasa Tuhan. Kata dokter skoliosis bisa diantisipasi dengan terapi memakai brace atau dengan jalan operasi. Kebetulan keluargaku bukanlah kalangan menengah ke atas, untuk terapi itupun tidak pernah rutin, jika harus memakai brace aku mungkin tidak sanggup, awal memakainya aku sudah merasa kesakitan. Aku bingung nggak tau harus mengambil sikap apa dalam ha ini. Aku hanya bisa menyesal, dulu aku sering memakai tas yang hanya digantungkan disatu sisi pundak, aku sering menulis miring kekanan dan aku sering duduk dibangku dekat tembok untuk bersandar. Ya Allah jika waktu bisa ku putar aku tak akan membiasakan hal itu. Sekarang aku hanya bisa menyesali semua itu. Aku takut orang disekelilingku akan menjauhiku karena ketidak sempurnaanku ini, kalian dengar ini alay dan berlebihan tapi sesungguhnya ini apa adanya, bayangkan jika kalian menjadi aku ketika ada seseorang berkata “Hai tulang kamu bengkok ya?” Apa yang harus kalian jawab. Seiring berjalannya waktu aku berusaha melupakan sesuatu bahwa aku adalah penderita scoliosis. Bahkan karena hal itu berat badanku susut 8kg. Entahlah apapun dan siapapun aku, aku hanya ingin menikmati masa remajaku dibangku SMP. Meskipun aku harus berhenti dari ekstrakulikuler Dram Band, dan harus menahan omongan orang tentangku. Aku hanya ingin tegar menhadapinya meskipun hanya pura-pura.
                Saat liburan di desa Nenekku di daerah Blitar, aku kira aku bisa menenangkan diri disana. Menikmati hawa sejuk, dan keadaan yang damai. Dimana keluarga nenekku ini sangat respect dengan keadaanku, mereka sangat perhatian denganku. Saat itu aku dan neneku hendak menuju ke sebuah toko kami berjalan di sore hari, lalu nenek berkata “Viq jalannya yang benar dan tegak seperti huruf balok dong” Akupun membenarkan posisiku dengan tertawa, nenek sangat suka lelucon akupun begitu, penderita scoliosis tidak pernah punya pantangan untuk tertawa hehe. Lalu tetanggaku ada yang mendengarkan pembicaraaan kami, ia sedang berdiri didepan rumahnya yang kami lewati. Tanpa sengaja aku mendengar “Ayu ayu, sayang sangkuk nduk” seketika kalimat dalam bahasa jawa itu menggugurkan kekuatan mentalku yang telah aku bangun sejak awal. Akupun melanjutkan perjalan tersebut dengan nenek. Seusai sampai rumah tampaknya nenek cemas denganku, padahal aku berusaha tidak menunjukkan bahwa aku sedang terjadi sesuatu. “Nduk, apa kamu tidak minta ayahmu untuk operasi saja?” lalu aku menjawab “Tidak nek, aku tidak apa-apa” dengan senyum yang begitu lebar J.
                Setelah liburan usai aku kembali ke kota Jombang untuk bersekolah dan tinggal bersama keluarga ibuku karena ayahku sedang bekerja diluar kota. Saat itu sudah duduk dibangku kelas 9 SMP, dimana aku bertemu dengan seseorang yang sudah aku sukai sejak pertama masuk SMP dan sekarang sedang menaruh perhatian padaku namanya Vian. Hehe ini kisah anak muda jaman sekarang kalau ada tanda-tanda perhatian pasti ada udang dibalik batu. Ya begitulah kami saling menyukai dan akhirnya pacaran. Karena kita disini kita membahas scoliosis yang aku alami jadi aku tidak menceritakan bagaimana aku bisa pacaran dengan orang yang aku sukai sejak pandangan pertama hehe. Saat itu kita selalu bersama karena kita satu kelas. Aku rasa dia sudah tahu kekuranganku karena kita pernah satu kelas saat kelas 7. Ya aku rasa begitu, dia tahu bahwa aku penderita scoliosis. Aku tak pernah sedikitpun membahas tantang hal itu, namun saat kita sedang makan bersama dipuja sera Vian bertanya “Aku lihat ada yang aneh dipunggungmu, kenapa sih? Pernah jatuh?” Pertanyaan yang aku khawatirkan akhirnya terlontar, dan aku hanya bisa mengangguk dan menaikkan pundak untuk menjawabnya. Aku berpikir jika aku katakana yang sebenarnya Vian akan meninggalkanku karena aku aneh. Sungguh pemikiran konyol. Sepulang kami makan siang, aku cemas gelisah nggak sanggup buat nangis.
                Beberapa lama kemudian aku kira aku harus berkata jujur pada Vian, ketika aku mudah lelah sesak nafas dan lain-lain karena aku bukan penderita asma. Tapi aku merasakan hal itu bagaimana aku harus menjelaskan pada mereka bukan hanya Vian bahwa aku adalah penderita scoliosis. Aku sudah menginjak bangku SMA aku kira aku sudah dewasa menghadapi hal seperti ini tidak mungkin aku mengandalkan kedua orang tuaku saja. Aku juga sudah kebal dengan kata-kata orang, bahkan aku sudah mulai bisa bercanda dengan pertanyaan teman-temanku tentang punggungku ini. Ketika mereka bertanya tentang keanehan punggungku, aku bisasa menjawabnya “Kepo deh, hehe”. Saat itu aku dan Vian sedang membicarakan tentang pelajaran karena saat itu kelas X kita masih sama dalam jurusan pelajaran, lalu aku mencoba berkata sesungguhnya. Betapa kejujuran itu mahal harganya namun sangat sulit untuk diungkapkan. “Vian, jika terjadi sesuatu denganku apa kamu masih mau menjadi orang yang selalu mengertikanku” Itulah yang aku katakana untuk pertama kalinya, dengan bahasa yang sedikit manis. Lalu Vian hanya menjawab “Yaiyalah” Jawaban yang singkat namun membuatku lega. Seharusnya aku tidak pernah takut Vian meninggalkanku karena kekuranganku ini, karena manusia dibumi tidak ada yang sempurna. Aku jelaskan pada Vian bahwa aku penderita scoliosis dari awal sampai akhir dengan napas yang terengah-engah dan air mata yang selalu ingin menetes. Meskipun Vian sering marah-marah sama aku, tapi dia baik bahkan dia salah satu orang yang selalu mengerti keadaanku. Vian berusaha mendengar kalimat-kalimatku yang sedikit kurang jelas dan menghapus air mata dipipiku. Kalimat terakhir yang aku ucapkan “Aku takut kamu berubah karena kejujuranku tentang aku yang sebenarnya ini” Setelah aku berhenti berkata, dia berusaha menarikku dipundaknya. Aku tak bisa melihat raut wajahnya. Lalu dia menjawab “Kenapa tidak operasi saja? Aku khawatir sama kamu, aku nggak bodoh ninggalin kamu gitu aja”ucapannya hampir seperti itu namun dengan bahasanya sendiri. Aku berusaha menjawabnya. Ketika aku harus berkata pada orang tuaku untuk operasi aku tak tahu uang dari mana karena 20-40 juta itu tidak sedikit. Keberhasilan berkisar 75% dan sisanya lumpuh bahkan samapi meninggal. Naudzubilah, sungguh hidup dan mati ada ditangan Allah SWT. Vian menatapku penuh dengan rasa cemas, namun berusaha meyakinkannya bahwa aku akan kuat seperti ini saja. Aku belum siap memakai brace, dilain rasa malu dan rasa sakit. Namun Vian selalu berkata “Ini juga demi kamu” Terkadang dengan nada yang tinggi pertanda bahwa ia menginginkan yang terbaik untukku namun aku selalu menyangkalnya. Belum lagi ketika aku selalu menunda-nunda check up dan menyerahkan hasil rhongent pada dokter, Vian pernah marah sampai aku menangis. Sungguh aku tidak ada maksud untuk berlaku seperti anak kecil aku hanya takut ketika derajad kemiringanku bertambah. Lalu pundaknya selalu menjadi tempatku mengadu saat menangis. Orang tuaku? Mereka sedang sibuk jangan tanyakan itu tapi aku percaya mereka juga sangat sayang padaku karena mereka bekerja untukku juga, aku mengerti. Terapi sederhana yang dokter anjurkan adalah berenang, meskipun aku sangat ingin meluangkan waktu untuk hal itu aku juga punya kesibukan lain, namuna aku selalu meluangkannya meskipun tidak rutin.
                Mungkin ini kisah pertama yang harus aku ceritakan pada kalian. Skoliosis bukanlah alasan kita untuk tidak semangat menjalani hidup, untuk takut djauhi orang disekitar bahkan ditinggal orang yang kita sayang. Kita memang tidak perlu dikasihani namun jika itu terjadi jadikanlah cambuk kekuatanmu. Aku sudah tidak mau menyesal untuk kedua kalinya, ketika aku lulus SMA aku harus meneruskan perjalanan hidup dan bertemu dengan kehidupan yang lebih keras lagi. Aku akan sering terapi dan rutin berenang. Bahkan aku akan rutin check up karena derajat kemiringan ini belum bisa dibilang parah, namun sangat ada kemungkinan jika tidak diantisipasi. Ketika aku punya batasan untuk beraktivitas, memang resiko dari sebuah takdir Tuhan. Jika besok aku harus memakai brace aku harus mau dan bisa, sakit sekarang tidak akan sesakit esok dan jika aku harus operasi Tim medis pasti akan mengusahakan yang terbaik untukku. Jalan masih panjang selagi cita-cita kita belum tercapai kita sama seperti mereka kita punya harapan selagi kita selalu semangat dan tegar keberhasilan akan selalu menyertai kita. Hidup, mati, jodoh, rezeki semua ada ditangan Tuhan. Jangan pernah merasa rendah, karena dimata Tuhan semua umat manusia sama.
                Sekian cerita pertamaku tentang skoliosis akan aku posting untuk part kedua jika ada cerita dan informasi yang harus aku sampaikan melalui blog ini.                                                                                                   

Twitter:@seviqfebinita             
Email:seviqf@gmail.com      
(Jangan sungkan untuk berbagi cerita J)                                                                                                                                                

1 komentar:

  1. betul, "kamu enggak sendirian", itu juga yang sering aku bilang ke temen2 skolioserku. Tetep semangat yaaa

    http://www.niiapanpan.com/scoliosis-stories/2013/hidup-dengan-skoliosis-part-1/

    BalasHapus