Terkadang hidup itu terasa sangat sempit, terasa sesak didada karena tak ada banyak ruang untuk bernafas. Terlalu banyak masalah yang dihadapi, beban yang menekan dan keadaan yang sangat mencekik. Terlahir sebagai anak pertama memanglah indah, pernah merasakan rasanya menjadi anak tunggal sebelum adiku lahir.
Lahir tahun 1997, masa orde baru yang sempat terjadi krisis moneter. Tapi kedua orang tuaku cukup pandai menghadapinya. Kami serba cukup dan aku memiliki banyak permintaan untuk segera dikabulkan. Dulu, itu dulu sebelum dunia merubahnya. Selamat datang di duniaku.
Keadaan, ya keadaan setelah adikku lahir dia perempuan. Aku tak kalah cantik dengannya, dan aku tak sungguh-sungguh membencinya. Jika banyak orang yang bertanya kenapa aku membenci adiku sendiri termasuk kekasihku yang sudah 3 tahun berpacaran, aku lebih baik mengalihkan pembicaraan. Aku hanya tak bisa menjelaskan hal itu, mulutku terasa kaku untuk mrnjelaskannya. 2 tahun ayahku menghilang, 2 tahun aku tak menatap wajahnya yang selalu ingin mengabulkan permintaanku, bahkan ketika beliau pulang kerja sangat semangat untuk menanyakan keinginanku.
Aku teringat akan sesuatu yang aku tak merasakan fisiknya tapi mendapatkan batinnya. Pagi itu rumah terasa ramai kegiatan posyandu yang rutin diadakan setiap minggu, tapi aku mendengar ada yang lebih bising. Aku mencari suara itu dan masuk kedalam kamar ayah dan ibu, ibuku sedang hamil tua adiku. "Plakkkkkk" suara tangan ayah menampar ibuku. Aku berdiri selama kurang lebih 5 detik lalu keluar. Aku menangis seperti anak kecil yang suara tangisnya tertahan karena takut dicubit orang tuanya. Hatiku terasa digondam, syaraf ditelapak tanganku serasa tertarik oleh endap tangisku. Ibu, ya ibu orang pertama yang paling ku sayang didunia ini. Aku melihatnya ditampar oleh ayah, seseorang yang kusayang setelah ibu, ibu dan ibu. Bagaimana bisa aku membela salah satunya?
Ibuku memutuskan untuk membawaku pergi ke rumah nenek bersama adikku bahkan diapun dilahirkan disana. Sampai sekarang aku sudah beranjak dewasa, aku sudah 17 tahun dan aku sudah tau semuanya. Tahu kenapa ayahku menampar ibuku, dan juga kemana ayah menghilang dan masih banyak lagi lainnya yang aku tau tanpa bertanya pada siapapun. Aku hanya menemukan satu hal dan aku bisa tahu semua hal yang belum aku ketahui. "Diary ibuku!" Disitulah beliau biasa mencurahkan masalah hidupnya derita hidupnya dan semuanya. Hampir tak ada kebahagiaan didalamnya. Ada satu kalimat dalam buku harian ibuku, beliau menyebut namaku "Sevi anaku cukup hanya ibu saja yang merasakan derita hidup ini, kamu jangan pernah merasakannya nak, jika waktu bisa kuputar akan kuperbaiki semua yang sudah hancur berkeping"
Aku tak pernah menanyakan sesuatu apapun pada ibuku. Bahkan ketika ayahku kembali aku tidak pernah menanyakan kenapa dan kemana beliau pergi. Pagi itu tiba-tiba berkata "Vi pasti kamu kangen sama ayah? 2 bulan lagi ayah datang pas kamu berangkat ke bali". Aku kaget, ibu pernah berkata bahwa beluau tidak tau keberadaan ayah tapi kenapa ibu bisa tau kapan ayah pulang. Aku menjawabnya dengan senyuman. Aku tak pernah mau menangis didepan ibu lagi semenjak aku melihat ayah memukul ibu. Selama ini, hampir setiap malam aku menangis, meratapi kisah tragis dalam kehidupanku. Keluarga yang kuidam-idamkan. Jujur, ketika aku membaca buku harian ibu aku merasa lancang, aku merasa belum siap untuk mengetahuinya. Semua sudah terlanjur dan aku akan mengunci erat-erat rahasia itu sebelum aku tau siapa orang yang tepat untuk kuberitahui, orang yang tetap ingin bersamaku walaupun dia tahu aku dan keluargaku seperti apa. Bahkan aku takut kehilangan semuanya karena kehidupanku (yang sebenarnya). Ketika ayah kembali keadaan tak jauh lebih baik, masih sering melihat mereka bertengkar walaupun ayah sedikit sungkan karena kami tinggal di rumah nenek dari ibuku. Aku masih melihat ayah yang dulu, penuh emosi, penuh amarah, penuh egois. Beliau ingin sukses, tapi kami hanya disuruh duduk manis untuk menunggunya sukses. Beliau tak ingin berbagi rasa susah. Beliau tidak tau bahwa doa anak dan istrinya sangat berpeluang untuk dijabah oleh Allah SWT. Walaupun begitu kami akan selalu mendoakan yang beliau usahakan. Meski bekali-kali beiiau membuat kami menderita. Jika aku mengeluh pada ayah beliau selalu berkata "ayah lebih menderita dari kamu" jika tidak beliau akan berkata "sudah cukup buat ayah tertekan". Sekarang aku tak tahu harus menangis pada siapa. Pada ibu? Yang setiap hari membanting tulangnya untuk membiayaiku atau pada ayah? Yang selalu menderita karena aku. Jika benar beliau menderita karena aku, rasanya aku ingin mati saja karena hidupku penuh dosa karena membuat beliau menderita. Rasanya aku tidak berguna untuk ada disini. Tapi, itu bukan pilihanku meskipun aku hampir pernah melakukannya. Mungkin Allah akan lebih membenciku dan akan menghukum orang tuaku. Sudah cukup aku membuat derita untuk orang tuaku. Aku memilih untuk menangis setiap malam, dan menjadi lebih baik dipagi hari, kemudian malamnya menangis lagi dan keesokan paginya menjadi lebih baik lagi.
Sekarang permintaanku bukan lagi sekedar "yah, boneka barbie ada koleksi terbaru kita beli yuk nanti main berdua..." tapi sekarang adalah... tunggu ada dua pilihan. "Yah aku ingin kuliah" berati ayah akan menderita lagi. Atau aku akan berusaha sendiri untuk kuliah, hanya butuh restu dari mereka. Mungkin banyak yg mengejekku merendahkanku bagaimana aku bisa kuliah. Terlebih lagi jika aku bisa mendapat beasiswa tanpa membuat derita untuk ayah lagi. Aku jadi ingat ayah pernah bilang jika aku pilih kasih, katanya aku tak pernah meminta sesuatu yang membuat ibuku terbebani. Ayah tidak salah berbicara seperti itu, ibu memang tidak pernah terbebani karena aku tau beliau harus tegar didepan anaknya. Aku tau, karena setiap malam aku lebih sering melihat ibuku daripada ayahku. Ketika dirumah beliau harus buru-buru kembali bekerja entahlah beliau tidak tau putrinya merindukannya dan masih tetap ingin merindukannya meski sudah dewasa. Bagaimanapun mereka orang tuaku, aku tak bisa disini jika tak ada mereka. Selama aku masih bisa menangis setiap malam, disitulah letak kekuatanku. Bagaimana aku bisa bangun setiap pagi dengan mata lebam, berjuang kemudian menangis lagi bangkit dan jatuh lagi.
Hingga pada suatu saat guru bk yang dekat denganku, mengajarkan sesuatu jika hidup terbiasa jatuh dan bangun dan terus seperti itu kapan kita berlari dan menggapai yang kita inginkan? Tidak akan pernah punya. Setelah aku mendapat motivasi itu, beban yang harus aku tutupi setiap hari tak kunjung berkurang. Aku merasa lelah setiap menangis aku ingin cuti atau pensiun menangis tapi tidak bisa, kemana lagi aku bisa bercerita demi Allah aku ingin merasakan hidup bebas untuk menikmati hidup yang telah di anugerahkan Allah. "Menangislah ketika kamu ingin menangis, jangan terbiasa menangis. Jangan membuat alarm malam hari setelah belajar kamu terjadwal untuk menangis. Lihatlah ke dinding jika kamu merasa ingin menangis (ada fotoku bersama seorang kekasih yang selama ini menginginkan agar aku menceritakan kesedihanku padanya) makasih ndos, makasih ayah makasih ibu. Adiku? Jika kamu sudah besar nanti kamu akan tahu kenapa aku membencimu. Tidak, aku tak sungguh membencimu.
Love seviq,